Orangyang memiliki ilmu memiliki keutamaan akan tinggi drajatnya baik di mata masyarakat maupun di mata Allah SWT. Allah SWT telah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Kedudukanorang berilmu yaitu : 1. Terbebas dari kebinasaan. 2. Diangkat derajatnya. 3. Memperoleh kebahagiaan dunia akhirat. 4. Dijauhkan dari pemimpin yang bodoh. Mari kita simak pembahasan berikut. Ayatayat al-Quran banyak membahas dan menjelaskan tentang kedudukan orang yang beriman dan berilmu di dalam Islam. Peranan ilmu dalam Islam sangat penting sekali. Karena tanpa ilmu, maka seorang yang mengaku mukmin, tidak akan sempurna bahkan tidak benar dalam keimanannnya. 29votes, 77 comments. Ulama jaman dahulu itu membuat persatuan, sekarang malah gontok gontokan. jaman dulu ulama itu ilmu tinggi namun prakteknya & Selainitu, maksud dari orang-orang yang berilmu adalah mereka yang memanfaatkan serta mengamalkan ilmunya dengan benar. Menurut Abu Hayyan, ayat di atas memberi isyarat, kesempurnaan manusia itu terbatasi hanya pada dua maksud, yakni ilmu dan amal. Jadi, antara ilmu dan perbuatan itu harus sesuai. Sebab, puncaknya ilmu itu adalah amal. Ketika ingin amal yang diperbuat bisa bermanfaat maka, harus disertai dengan ilmu. Allahjuga menjanjikan akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu sampai beberapa derajat (Q.S Al-Mujadilah: 11). Demikianlah kedudukan dan keistimewaan orang yang berilmu, ia memperoleh kemuliaan dari sisi Allah, di dunia dan kelak di akhirat. Dikutip dari halaman Mutiaraislam, berikut Ayat-ayat Al-Quran tentang ilmu. Tuturbeliau dengan komunikatif menjelaskan kedudukan orang-orang yang berilmu. Beliau juga menyampaikan, bahwa ilmu ada dalam pemahaman beragama dan tidak akan beroleh ilmu seseorang yang tidak Allah Swt pahamkan ia akan pemahaman agama. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Allah Swt lewat firman-Nya QS Al-Mujadalah: 11 Sampaidi sini kita pahami bahwa kedudukan orang yang berilmu sangatlah mulia, kemuliaan tersebut tidak hanya mereka dapatkan ketika di dunia tatapi juga di akhirat, tetapi dengan catatan mereka mengaplikasikan ilmunya. Al-Syaukani menjelaskan, ayat ini secara umum untuk setiap orang beriman dan orang yang berilmu agama, tidak ada pengkhususan Artinya "Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (QS. Al 'Ankabuut : 43) بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ Poinpertama merupakan pendahuluan karena ulama memiliki dua hak, yaitu sebagai seorang Muslim dan sebagai seorang yang memiliki kelebihan, dalam hal ini kelebihan ilmu.Pola ini senada dengan sikap Allah SWT yang telah lebih mengutamakan kaum Muslimin dibandingkan dengan umat lain, kemudian Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu di antara kaum Muslimin.Allah SWT berfirman, ' niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang 2zsH3D. AYAT-ayat Al-Quran tentang ilmu menegaskan betapa pentingnya dalam agama islam. ilmu mendahului amal. Ilmu harus menjadi pondasi bagi setiap amal yang dilakukan seseorang. Karena jika suatu amal yang dikerjakan tanpa landasan ilmu akan menjerumuskan seseorang kedalam kesalahan beramal. Itulah mengapa islam memandang aktifitas menuntut ilmu sebagai kewajiban sepanjang hayat bagi setiap muslim HR. Ibnu Majah. Dengan ilmu, maka seseorang akan mengetahui hukum dari setiap amal perbuatan. Selain itu juga, seseorang akan mampu menunaikan tugasnya sebagai hamba Allah dengan sebaik-baiknya, karena didasari ilmu. Allah SWT melemparkan pertanyaan kepada kita dalam surat Az-Zumar ayat 9, sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, namun sebagai sindiran bahwa tidak ada kesamaan antara posisi orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Allah juga menjanjikan akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu sampai beberapa derajat Al-Mujadilah 11. Demikianlah kedudukan dan keistimewaan orang yang berilmu, ia memperoleh kemuliaan dari sisi Allah, di dunia dan kelak di akhirat. Dikutip dari halaman Mutiaraislam, berikut Ayat-ayat Al-Quran tentang ilmu. Ayat-ayat Al-Quran Tentang Ilmu An-Nahl 43 Ilustrasi. foto unsplash وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ “Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau Muhammad, melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” Ayat-ayat Al-Quran Tentang Ilmu Thaha 114 فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا “Maka Mahatinggi Allah, sebenar-benarnya Raja. Dan janganlah engkau Muhammad tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. ” BACA JUGA Tidur Sehat Sesuai Anjuran Nabi, Ini 6 Caranya Ayat-ayat Al-Quran Tentang Ilmu Yunus 5 هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada orang-orang yang mengetahui.” Ayat-ayat Al-Quran Tentang Ilmu Al-Kahfi 66 قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا “Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk?” Ayat-ayat Al-Quran Tentang Ilmu An-Naml 15 وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ “Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Dawud dan Sulaiman. Dan keduanya berkata, “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari banyak hamba-hamba-Nya yang beriman.” Ayat-ayat Al-Quran Tentang Ilmu An-Naml 40 قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ “Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawakan singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia Sulaiman melihat singgasana itu muncul di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah mengingkari nikmat-Nya. Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” Ayat-ayat Al-Quran Tentang Ilmu Al-Qashas 14 وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ “Dan setelah dia Musa sampai usia dewasa dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah kenabian dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” Ayat-ayat Al-Quran Tentang Ilmu Al-Ankabut 43 Ilustrasi. foto Unplash وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia. Dan tidak ada yang bisa memahaminya kecuali mereka yang berilmu.” BACA JUGA Ingin Syafaat di Hari Kiamat Kelak? Amalkan 8 Hal Ini Ayat-ayat Al-Quran Tentang Ilmu Al-Ankabut 49 بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ “Sebenarnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang dzalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.” وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ “Dan orang-orang yang diberi ilmu berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu Muhammad dari Tuhanmu itulah yang benar dan memberi petunjuk bagi manusia kepada jalan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”[] SUMBER MUTIARAISLAM IDNTIMES Oleh Muhammad Syafii Kudo ISLAM adalah agama wahyu yang sangat menjunjung tinggi kedudukan ilmu dan yang terkait dengannya seperti para penempuhnya Tholabul Ilm maupun pengajarnya Aalim. Allah Swt berfirman, شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian itu. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” QS. Ali Imran 18. DI dalam ayat tersebut Allah Swt memulai kesaksian dengan Diri Nya, diikuti dengan para malaikat Nya lalu seterusnya dengan ahli ilmu. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan ilmu dan para ahli ilmu di sisi Allah Swt. Dalam beberapa hadis yang masyhur juga dijelaskan bagaimana mulianya kedudukan ahli ilmu dalam pandangan Islam. Rasulullah Saw bersabda, العلماء ورثۃ الأنبياء “Para ulama adalah pewaris para Nabi.” HR. Bukhari. Beliau Saw juga bersabda, فضل العالم علی العابد كفضلي علی أدنكم رجلاً “Keutamaan orang alim atas seorang abid ibarat kelebihanku atas orang yang terbawah di kalangan kamu.” HR. Thobroni. Kedudukan ilmu di dalam Islam memang sangat vital bahkan merupakan fardhu Ain bagi tiap Muslim untuk mencarinya. Hal ini seperti yang termaktub di dalam beberapa riwayat hadis. Rasulullah SAW bersabda, طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة,و طالب العلم يستغفر له كل شيء حتى الحوت في البحر “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang Islam laki-laki dan perempuan. Orang yang mencari ilmu itu akan dimintakan ampun oleh setiap sesuatu yang ada di muka bumi ini sampai ikan-ikan yang berada di lautan”.HR. Thobroni. Bahkan saking tegasnya Islam dalam memposisikan kedudukan ilmu hingga dikatakan bahwasannya manusia itu dibagi menjadi dua golongan saja yakni orang yang mengajarkan ilmu dan yang belajar ilmu. Di luar kedua golongan itu adalah kelompok yang tidak dianggap. Rasulullah Saw bersabda, النّاس رجلان عالم و متعلم وساءر هم همج “Manusia itu ada dua golongan ; Orang alim dan penuntut ilmu, lain dari mereka adalah golongan yang hina-dina.” Keutamaan ilmu juga dapat dilihat dalam kisah burung Hud-hud ketika ditanya oleh Nabi Sulaiman As. Hud-hud hanyalah seekor burung kerdil di hadapan Nabi Sulaiman As yang berderajat tinggi lagi gagah perkasa. Namun dengan kemuliaan ilmu, sedikit pun Hud-hud tak gentar dengan ancaman Nabi Sulaiman As, bahkan dengan tenang dia menjawab, فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. “QS. An-Naml 22. Ini adalah bukti bahwa ilmu adalah ruh di dalam Islam yang tanpanya hukum-hukum Allah tentu tidak akan bisa diketahui dan dijalankan. Bahkan disebutkan secara tegas bahwa mencari ilmu adalah sebuah kemuliaan. Adabul Muridin Lil Imam An Najeeb Dhiya’uddin As Suhrawardiy, Terj. Hal 31 Bab Fadhilah Ilmu. Rasulullah Saw menjelaskan bahwasannya dunia dan seisinya itu terlaknat kecuali pada beberapa hal, seperti yang tertera di dalam hadis, أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَـا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَـافِيْـهَـا إِلاَّ ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالاَهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَـلِّـمٌ . “Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, seorang alim, dan seorang yang menuntut ilmu.” Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi. Ilmu juga menjadi tolak ukur seseorang apakah dikehendaki menjadi baik atau buruk oleh Allah Swt. Tentu ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang bisa menghantarkan seorang hamba untuk mengenal akan Rabb nya yaitu ilmu agama Islam. Rasulullah Saw bersabda, مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ “Barangsiapa dikehendaki Allah mendapat kebaikan, maka akan dipahamkan ia dalam masalah agama.” HR. Bukhari. Dipahamkan dalam hal ini maksudnya adalah dipahamkan dalam masalah ilmu agama baik yang diperolah secara kasbi proses belajar pada guru dan membaca kitab maupun secara wahby pemberian langsung dari Allah alias Ladunni. Bahaya Ilmu Yang Tidak Bermanfaat Dalam pandangan Islam secara garis besar ilmu itu dibagi menjadi dua yakni ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat. Di dalam pembukaan kitab Ayyuhal Walad karya Imam Ghazali Rhm. diceritakan bagaimana murid beliau menuliskan keluhannya kepada Imam Ghazali. Sang murid yang sudah belajar lama dan berkhidmah kepada Imam Ghozali itu sudah menguasai berbagai ilmu yang detail yang tidak bisa dikuasai oleh orang awam dan dia pun memiliki kekuatan jiwa yang sudah teruji. Namun sang murid suatu saat bertafakur dan merenungi keadaan dirinya, dia khawatir akan keadaan dirinya. Dia berkata,” Sungguh aku telah membaca bermacam-macam ilmu dan telah kucurahkan umurku untuk belajar dan menghasilkan ilmu, saat ini yang selayaknya aku ketahui adalah, ilmu yang mana yang bermanfaat bagiku, serta menjadi penghiburku di dalam kuburku, dan ilmu mana yang tidak bermanfaat bagiku sehingga akan kami tinggalkan, seperti saّbda Nabi Muhammad Saw, اللهمّا إنّي أعوذ بك منۡ علۡم لا ينۡفعۡ “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” Mengapa murid Imam Ghozali yang sudah menjadi ulama dan menguasai berbagai ilmu termasuk yang tidak bisa dikuasai oleh orang awam itu masih memiliki kekhawatiran sedemikian rupa? Alasannya adalah karena dia takut kepada ancaman Allah Swt, sebab disebutkan di dalam hadis bahwa Rasulullah Saw bersabda, اشدُّ النَّس عذاباً يوم القيامۃ عالمٌ لمۡ ينفعۡه اﷲ بعلمه “Manusia yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah ahli ilmu yang Allah tidak memberi manfaat atas ilmunya.” HR. Baihaqi. Jika timbul pertanyaan di benak kita bagaimana bisa seseorang yang dikatakan ahli ilmu malah disiksa paling keras oleb Allah Swt? Jawabannya adalah karena dia tidak mengamalkan ilmunya atau ilmunya tidak bermanfaat atau bisa pula dia memakai ilmunya itu untuk mendurhakai Allah Swt dengan jalan menyesatkan manusia dsb. Rasulullah Saw bersabda, من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله الا بعدا “Barangsiapa yang bertambah ilmunya dan tidak bertambah petunjuk baginya maka tidak bertambah kepadanya kecuali makin jauh dari Allah.” Makin jauh di sini artinya adalah jauh dari rahmat Allah dan bukan maksudnya semakin jauh secara fisik sebab Allah tidak boleh disifati dengan sifat makhluk Tajsim dan Tasybih karena Allah berbeda dengan makhluk. Dan juga Allah tidak butuh kepada arah dan tempat serta ruang dan waktu. Beliau Saw juga bersabda, العلم علمان علم على اللسان فذلك حجة الله تعالى على خلقه، وعلم في القلب فذلك العلم النافع “llmu pengetahuan itu ada dua ilmu pada lisan, yaitu ilmu yang menjadi alasan bagi Allah atas makhluk-Nya dan ilmu pada hati, yaitu ilmu yang bermanfa’at”HR. Tirmidzi. Ilmu yang tidak bermanfaat bisa juga muncul dikarenakan salah dalam niat ketika mencarinya. Sehingga ilmu yang didapat bukannya menjadikan bermanfaat namun malah menjadi mafsadat dan mudharat bagi pemiliknya dan orang lain. Hal ini banyak disinggung di dalam kitab-kitab yang khusus membahas masalah adab dalam mencari ilmu seperti kitab Ta’lim Al Muta’alim karya Syekh Az Zarnuji dan kitab Adabul Alim Wal Muta’alim karya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Rasulullah Saw pernah mengingatkan perihal bahaya orang-orang yang salah niat dalam mencari ilmu dalam sabdanya, لا تتعلموا العلم لتباهوا به العلماء ولتماروا به السفهاء ولتصرفوا به وجوه الناس إليكم فمن فعل ذلك فهو في النار “Janganlah engkau mempelajari ilmu pengetahuan untuk bersombong-sombong dengan sesama orang berilmu, untuk bertengkar dengan orang-orang yang berpikiran lemah dan untuk menarik perhatian orang ramai kepadamu. Barang siapa berbuat demikian, maka dia dalam neraka” HR. Ibnu Majah. Sayyidina Umar Bin Khattab Ra berkata,”Yang paling saya takutkan atas umat ini adalah orang munafik yang berilmu.” Lalu beberapa orang berkata,”Bagaimana bisa demikian?” Sayyidina Umar Bin Khotob Ra menjawab,”Mereka berilmu di lidah saja namun tidak di hati dan perbuatan.” Beberap hadits tersebut menunjukkan betapa besarnya bahaya ilmu, yaitu ilmu yang tidak bermanfaat. Orang yang berilmu hakikatnya berada di antara dua kemungkinan. Adakalanya mereka menderita kebinasaan abadi atau bisa pula kebahagiaan abadi. Tergantung apakah dia bisa memperoleh manfaat dengan ilmunya atau ilmunya malah menjadi mafsadat baginya. Terutama bagi para ahli ilmu yang memiliki kedudukan dan pengikut di kalangan umat. Tentu fitnah mereka lebih berbahaya. Jika mereka baik maka umat akan baik dan sebaliknya jika mereka rusak maka rusak pula seluruh umat. Dikatakan di dalam sebuah kalam hikmah, اِنَّ زَلَّۃَ الۡعَالِمِ كاَ السَّفِيۡنَۃِ تَغۡرَقُ وَيَغۡرَقُ مَعَهَا خَلۡقٌ كَثِيۡرٌ “Sesungguhnya kesesatan seorang Alim itu seperti sebuah bahtera yang tenggelam. Niscaya akan ada banyak makhluk yang ikut tenggelam bersamanya.” Imam Al-Ghazali Rhm. menjelaskan di ujung bab Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam kitab Ihya’ Ulumudin tentang rumus penting terkait jatuh bangunnya umat. Beliau menjelaskan bahwa rakyat rusak karena penguasa rusak, penguasa rusak karena ulama rusak, dan ulama rusak karena cinta harta dan kedudukan. Artinya rusaknya ulama ahli ilmu merupakan pangkal seluruh kerusakan. Maka untuk menyelamatkan sebuah generasi haruslah menyelamatkan ilmu yang dibawa oleh para penempuh dan pengajarnya. Dan itu semua harus dimulai sejak dini saat proses awal mencari ilmu. Maka berhati-hati di dalam menuntut ilmu itu sangat penting bahkan wajib ditanamkan semenjak tahap awal proses menuntut ilmu yakni mulai dari niat, adab dan cara menuntut ilmu tersebut. Sebab baik buruknya hasil ilmu ditentukan mulai dari awal proses kala menempuhnya. Sebagai pengingat agar kita berhati-hati di dalam menata niat saat menuntut ilmu ada baiknya kita merenungkan pendapat Syekh Ibnu Atho’ilah Assakandary Ra yang menyatakan, “Perumpamaan orang yang menuntut ilmu untuk mendapatkan dunia dan kedudukan adalah seperti orang yang mengangkat kotoran dengan sendok permata. Alatnya sungguh mulia, sementara isinya teramat hina.”Latha’if Al Minan Rahasia Yang Maha Indah; Belajar Hidup Berkah Dari Kekasih Allah, Halaman 65. Wallahu A’lam Bis Showab. Murid Kulliyah Dirosah Islamiyah Pandaan Pasuruan Banyak ayat-ayat al-Quran yang membahas dan menjelaskan tentang kedudukan orang yang beriman dan kedudukan orang yang berilmu di dalam Islam. Peranan ilmu dalam Islam sangat penting sekali. Karena tanpa ilmu, maka seorang yang mengaku mukmin, tidak akan sempurna bahkan tidak benar dalam keimanannnya. Seorang muslim wajib mempunyai ilmu untuk mengenal berbagai pengetahuan tentang Islam baik itu menyangkut aqidah, adab, ibadah, akhlak, muamalah, dan sebagainya. Dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman ilmu yang benar, maka diharapkan pengamalannya akan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Mujadalah [58] ayat 11 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tafsir Singkat al-Jalalain Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, “Berlapang-lapanglah berluas-luaslah dalam majelis” yaitu majelis tempat Nabi saw. berada, dan majelis zikir sehingga orang-orang yang datang kepada kalian dapat tempat duduk. Menurut suatu qiraat lafal al-majaalis dibaca al-majlis dalam bentuk mufrad maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian di surga nanti. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kalian” untuk melakukan shalat dan hal-hal lainnya yang termasuk amal-amal kebaikan maka berdirilah menurut qiraat lainnya kedua-duanya dibaca fansyuzuu dengan memakai harakat damah pada huruf Syinnya niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian karena ketaatannya dalam hal tersebut dan Dia meninggikan pula orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat di surga nanti. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Penjelasan Global Sebab turunnya ayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil bin Hibban, ia berkata, “Pada suatu hari, yaitu hari jumat, Rasulullah SAW. berada di Suffah mengadakan pertemuan di suatu tempat yang sempit, dengan maksud menghormati pahlawan-pahlawan perang Badar yang terdiri dari orang-orang Muhajirin dan Anshar. Beberapa orang pahlawan perang Badar itu terlambat datang di antaranya Sabit bin Qais. Para pahlawan Badar itu berdiri di luar yang kelihatan oleh Rasulullah mereka mengucapkan salam, “Assalamu’ alaikum Ayyuhan Nabiyyu warahatullahi wabarakatuh”, Nabi SAW. menjawab salam, kemudian mereka mengucapkan salam pula kepada orang-orang yang hadir lebih dahulu dan dijawab pula oleh mereka. Para pahlawan Badar itu tetap berdiri, menunggu tempat yang disediakan bagi mereka, tetapi tidak ada yang menyediakannya. Melihat itu Rasulullah SAW. merasa kecewa, lalu mengatakan, “berdirilah, berdirilah”. Berapa orang yang ada di sekitar itu berdiri, tetapi dengan rasa enggan yang terlihat di wajah mereka. Maka orang-orang munafik memberikan reaksi dengan maksud mencela Nabi SAW. mereka berkata, “Demi Allah, Muhammad tidak adil, ada orang yang dahulu datang dengan maksud memperoleh tempat duduk di dekatnya, tetapi di suruh berdiri agar tempat itu diberikan kepada orang yang terlambat datang.” Maka turunlah ayat ini. Dari ayat ini dapat dipahami Para sahabat berlomba-lomba mencari tempat dekat Rasulullah agar mudah mendengar perkataan beliau yang beliau sampaikan kepada mereka. Perintah memberikan tempat kepada orang yang baru datang, adalah merupakan anjuran, sekiranya hal ini mungkin dilakukan, untuk menimbulkan rasa persahabatan antara sesama yang hadir. Sesungguhnya tiap-tiap orang yang memberikan kelapangan kepada hamba Allah dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka Allah akan memberi kelapangan pula kepadanya di dunia dan di akhirat nanti. Memberi kelapangan kepada sesama muslim dalam pergaulan dan usaha mencari kebaikan, berusaha menyenangkan hati saudara-saudaranya, memberi pertolongan dan sebagainya termasuk yang dianjurkan Rasulullah SAW. Beliau bersabda “Allah selalu menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” HR. Bukhari dan Muslim Ayat ini menerangkan bahwa jika kamu disuruh Rasulullah SAW. berdiri untuk memberikan kesempatan kepada orang tertentu agar ia dapat duduk atau kamu disuruh pergi dahulu hendaknya kamu berdiri atau pergi, karena ia ingin memberikan penghormatan kepada orang-orang itu atau karena ia ingin menyendiri untuk memikirkan urusan-urusan agama, atau melaksanakan tugas-tugas yang perlu diselesaikan dengan segera. Berdasarkan ayat ini para ulama berpendapat bahwa orang-orang yang hadir dalam suatu majelis hendaklah mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam majelis itu atau mematuhi perintah orang-orang yang mengatur majelis itu. Jika dipelajari maksud ayat di atas ada suatu ketetapan yang ditentukan ayat ini, yaitu agar orang-orang menghadiri suatu majelis baik yang datang pada waktunya atau yang terlambat itu, selalu menjaga suasana yang baik, penuh persaudaraan dan saling bertenggang rasa dalam majelis itu. Bagi yang terdahulu datang hendaklah memenuhi tempat yang agak di muka, sehingga orang yang datang kemudian tidak perlu melangkahi atau mengganggu orang yang telah terdahulu hadir dan bagi orang yang terlambat datang hendaklah merasa rela dengan keadaan yang ditemuinya, seperti tidak dapat tempat duduk. Inilah yang dimaksud dengan sabda Nabi SAW. لا يقم الرجل من مجلسه ولكن تفسحوا وتوسعوا Janganlah seseorang menyuruh berdiri, dari tempat-tempat duduk temannya yang lain, tetapi hendaklah ia mengatakan lapangkanlah atau geserlah sedikit. HR. Bukhari Muslim dll. Akhir ayat ini menerangkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman, yang taat dan patuh kepada-Nya, melaksanakan perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, berusaha menciptakan suasana damai, aman dan tenteram dalam masyarakat, demikian pula orang-orang yang berilmu yang menggunakan ilmunya untuk menegakkan kalimat Allah. Dari ayat ini dipahami bahwa orang-orang yang mempunyai derajat yang paling tinggi di sisi Allah ialah orang yang beriman, berilmu dan ilmunya itu diamalkan sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dilakukan manusia, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya, siapa yang durhaka kepada-Nya. Dia akan memberi balasan yang adil, sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya. Perbuatan baik akan dibalas dengan surga dan perbuatan jahat dan terlarang akan dibalas dengan azab neraka. Sedangkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan sebagai berikut Allah Ta’ala akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Maksudnya, janganlah kalian berkeyakinan bahwa jika salah seorang di antara kalian memberi kelapangan kepada saudaranya, baik yang datang maupun yang akan pergi lalu dia keluar, maka akan mengurangi hak-nya. Bahkan hal itu merupakan ketinggian dan perolehan martabat di sisi Allah. Dan Allah Ta’ala tidak menyia-nyiakan hal tersebut, bahkan Dia akan memberikan balasan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya orang yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya dan akan memasyhurkan namanya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abuth Thufail Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin Abdil Harits pernah bertemu dengan Umar bin al-Khaththab di Asafan. Umar mengangkatnya menjadi pemimpin Makkah lalu Umar berkata kepadanya “Siapakah yang engkau angkat sebagai khalifah atas penduduk lembah?” la menjawab “Yang aku angkat sebagai khalifah atas mereka adalah Ibnu Abzi, salah seorang budak kami yang telah merdeka.” Maka Umar bertanya “Benar engkau telah mengangkat seorang mantan budak sebagai pemimpin mereka?” Dia pun berkata “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah seorang yang ahli membaca Kitabullah al-Qur-an, memahami ilmu fara-idh dan pandai berkisah.” Lalu Umar berkata “Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda “Sesungguhnya Allah mengangkat suatu kaum karena Kitab ini al-Qur-an dan merendahkan dengannya sebagian lainnya.” *** Referensi Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh, Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir Program Harf The Holy Quran