Raden (bahasa Jawa: ꦫꦢꦺꦤ꧀) ialah gelaran kebangsawanan dalam kebudayaan Jawa dan Sunda. Gelar umum bagi para bangsawan Jawa ini dahulunya berarti pemangku negeri yang telah mencapai keluhuran rohani dan kemuliaan akhlak; bahkan juga telah mencapai “ketajaman perasaan” dan kelembutan hati nurani. Geografi. Kabupaten Lumajang terletak pada 112°53'–113°23' Bujur Timur dan 7°54'–8°23' Lintang Selatan. Luas wilayah keseluruhan Kabupaten Lumajang adalah 1790,90 km2. Kabupaten Lumajang terdiri dari dataran yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi yaitu: Gunung Semeru (3.676 m) Aksarajawaꦲꦏ꧀ꦱꦫꦗꦮjenis aksara abugida bahasajawa, sunda, madura, sasak, melayu, kawi, sanskertaperiodeabad ke-15 hingga sekarangarah penulisankiri ke kananaksara terkaitsilsilahmenurut hipotesis hubungan antara abjad aramea dengan brahmi, maka silsilahnya sebagai berikut: abjad proto-sinai abjad fenisia abjad aramea aksara brahmi dari aksara brahmi diturunkanlah:[a]aksara Dimana tradisi Dugderan tidak lain merupakan warisan sejarah dan budaya masyarakat Semarang dan Sekitarnya. Keberadaan Warak Ngendok sebagai simbol dalam ritual Dugderan ini mampu bertahan hingga sekarang ini di tengah perubahan sosial-kultur masyarakat. Bahkan Warak Ngendok menjadi maskot masyarakat Semarang.[4] Dalam bahasa Jawa , kata cingur berarti "mulut" atau cengor dalam Bahasa Madura, hal ini merujuk pada bahan irisan hidung atau moncong sapi yang direbus dan dicampurkan ke dalam hidangan. Rujak cingur biasanya terdiri dari irisan beberapa jenis buah seperti timun, kerahi ( krai, yaitu sejenis timun khas Jawa Timur atau blungkak dalam Bahasa Tahun 1990 keatas kesenian Tari Topeng Getak Kaliwungu mulai tergeser dengan timbulnya keseniankesenian modern. Atensi warga mulai menyusut terhadap kesenian Tari Topeng Getak Kaliwungu sebab lebih tertarik dengan hiburan modern semacam karaoke serta musik dangdut. Tahun 2000 keatas kesenian Tari Topeng Getak Kaliwungu banyak hadapi kenaikan. Legenda : Jawa Alkisah, Sunan Katong dari Demak melakukan perjalanan ke Tanah Perdikan Prawoto. Beliau diutus oleh Wali Songo untuk menyadarkan Empu Pakuwaja yang merupakan murid dari Syeh Siti Jenar. Dalam perjalanannya beliau ditemani oleh tiga santrinya yaitu Wali Jaka, Ki Tekuk Penjalin, dan Kyai Gembyang. Sementara itu, Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang gemar belajar tengah berkelana. Sedih hati Jayanasa, kehilangan kakak panutannya. Ayahnya, Prabu Santanu, sebelum wafat sempat menceritakan asal-usul leluhur mereka yang berasal dari Tarumanegara dan Melayu. Jayanasa tertarik melakukan perjalanan, mengunjungi kerabat dan negeri leluhurnya. Demikianlah, daerah di mana kedua tokoh itu gugur sampyuh dan darahnya menyatu kemudian dikenal dengan nama “KALIWUNGU” (sungai yang airnya berwarna ungu). Kota kaliwungu kini terkenal sebagai kota santri. Para santrinya berasal dari daerah Kaliwungu dan sekitarnya. Boyolali, apabila kita jadikan bahasa Jawa Krama, mestinya menjadi “bajulkesupen” atau “boyosupe” dan bukan “boyowangsul” atau “bwangsul”. Geriecke en Roorda, selanjutnya menjelaskan, dalam bahasa Jawa terdapat kata: wali dapat berubah menjadi bali atau mali, artinya wangsul atau bangsul. Maleni = mbaleni = mangsuli. JLyzn. LEGENDA KALIWUNGUKonon menurut empu cerita, nama kaliwungu dilatarbelakangi oleh kronik peperangan antara sultan Agung melawan VOC di Batavia. Ada akal bulus dari tentara VOC, yaitu untuk memukul mundur bala tentara Sultan Agung, bukanlah mesiu melainkan kotoran manusialah yang menjadi pelurunya. Ihwal lahan pikiran ini mencuat kedepan karena karena mereka begitu tahu bahwa kaum sabilillah ini lebih takut kepada batang najis ketimbang nyawa yang harus berpindah ke surga. Dan nyatanya memang begitulah adanya. Keadaan ini menjadikan tokoh sakti, Mandururejo kecewa hati. Muncul di benaknya untuk bisa menggantikan bahkan merbut kekuasan Sultan Agung . Issu pun muncul di sana sini , dan Sutan mendengarnya. “Musuh dalam selimut jadinya, jika sang mandururejo tidak di bunuhnya”, begitu angan Sultan Agung. Maka berkumandanglah maklumat Sultan, “wahai siapa-siapa yang bisa mengakhiri nyawanya”. Dari sini agaknya banyak orang menjadi nyinyir lantaran paham betul bahwa Mandururejo memang siapa pula orangnya yang mau menyambung nyawanya secara sia-sia. Pangeran Gribik terkesiap darahnya, mendengar tawanan itu. Dengan kesaktiannya, dicarilah Mandururejo. Maka sebagaimana layaknya kesatria, keduanya beradu dalam medan laga. Dan akhirnya……….Mandururejo terbenam, tidur panjang di tangannya. Mayat Mandururejo digotong pulang kearah pesan Sultan Agung yaitu ke tanah Pratowo. Ditengah perjalanan yang melelahkan dan waktu salat sudah tiba , Pangeran Gribik salat dan beristirahat. Ia pun meletakkan jenazah Mandururejo di pinggir sungai. Ketika Pangeran Gribik selesai membersihkan badan dan berwudhu, dilihatnya jenazah Mandururejo wungutangi artinya “bangun dalam bahasa jawa. Itulah Khasanah ceritanya.